Minggu, 29 September 2019

CINTA ORANG TUA KE ANAK: TULUS ATAU PENUH MOTIF?




Cinta orang tua sepanjang jalan; cinta anak sepanjang galah, sepenggal pepatah lama yang kita ingat betul sejak sekolah. Majas ini untuk menggambarkan betapa cinta orang tua itu tak terukur. Akan tetapi, bagaimana jika jalan yang dijadikan ranah sumber metafora tersebut penuh lubang atau terputus seperti banyak ruas jalan di pelosok Indonesia?

Di sepanjang pengalaman, kita lebih sering menerima pengajaran tentang kemuliaan orang tua dan kewajiban anak terhadap orang tua. Mencermati hubungan anak-orang tua dari sudut pandang anak kurang mendapatkan tempat dalam masyarakat kita, termasuk membicarakan cinta orang tua ke anak. Bahkan, ketika kita mencoba berada di tengah pun, sulit untuk tidak dikritik.

Kita mewarisi kepercayaan bahwa cinta orang tua ke anak adalah otomatis, tulus, sepanjang hayat, dan oleh karena itu tidak perlu diganggu-gugat laiknya sebuah keputusan mahkamah. Akibatnya, kita digelayuti keyakinan bahwa semua keputusan orang tua atas anak harus dilaksanakan karena itu didasarkan atas cinta, semata-mata demi kebagusan sang anak itu sendiri—orang tua bebas dari bias.

Namun, jika kita telisik dengan saksama, terdapat banyak gejala bahwa apa yang dinamakan cinta orang tua tersebut tak lebih dari sebuah kateksis (cathexis), penguasaan, dan pemanfaatan. Bahkan, gejala tersebut muncul dalam seminar-seminar parenting. Misalnya, ada sebuah seminar di kampus tempat saya mengajar dengan tema “Anak: Investasi Dunia Akhirat”.

Secara gamblang pesan yang bisa ditangkap dari tema tersebut adalah menjadikan anak sebagai komoditas atau saham yang ditunggu keuntungannya untuk dikeruk. Ini adalah contoh bentuk pemanfaatan anak untuk kepentingan orang tua, anak sekadar objek yang bisa dieksplotasi secara duniawi supaya bisa memberikan upeti di usia senja, atau diharapkan syafaatnya kelak di akhirat. Tentu saja panitia akan mencak-mencak dan menolak penafsiran seperti itu, akan tetapi siapa pun mudah mencari pembenaran ketika sebuah kesalahan telanjur terkuak. Para linguis meyakini bahwa cara pandang mempengaruhi pilihan kosakata kita.

Di tempat lain, terkadang ekspresi “cinta” orang tua ke anak sekadar kateksis. Morgan Scott Peck (1978: 117) mendefinisikan kateksis sebagai proses yang dengannya sebuah objek menjadi penting bagi kita. Kala seseorang terkateksasi, sebuah objek akan diasosiasikan sebagai “sesuatu yang dicintai” karena bakal ada energi yang diinvestasikan sehingga seolah-olah hal itu menjadi bagian dari diri seseorang. Hubungan antara objek dan orang itulah yang disebut kateksis. Sementara itu, proses menarik energi kita dari “objek yang dicintai” disebut dengan dekateksasi.

Untuk mencermati contoh dari kateksis, yang tampak seperti cinta ini, kita dapat melihat bagaimana orang mencintai binatang peliharaannya. Cinta terhadap binatang tidak dapat disebut sebagai cinta karena minus komunikasi. Kita tidak tahu apa yang ada di kepala binatang kesayangan sehingga mudah bagi kita untuk memproyeksikan pikiran kita sendiri kepada binatang tersebut. Kedua, binatang hanya mau bersama kita ketika kebetulan kebutuhannya sejalan dengan kebutuhan kita terhadapnya. Hal ini menjadi dasar kita memilih binatang apa yang akan kita pelihara. Satu-satunya yang kita harapkan dari binatang peliharaan ini adalah kepatuhannya terhadap kehendak kita—semakin menuruti kehendak kita, binatang semakin dianggap istimewa. Selanjutnya, hubungan kita dengan binatang adalah pemeliharaan ketergantungan: kita tidak ingin mereka kabur, kita hanya ingin dia bersama. Nilai binatang ditentukan sejauh mana dia melekat dengan kita.

Sebagian orang tua hanya mampu mencintai anaknya seperti cinta kepada binatang tersebut: anak hanya diproyeksikan untuk menuruti keinginan orang tua. Seorang ibu hanya mampu mencintai anaknya saat bayi: bercanda dan bermain dengannya, menyusui, bersenandung, sangat memperhatikan kebutuhannya, dan merasa bangga sebagai perempuan karena bisa hamil dan melahirkan anak. Namun, kondisi ini bisa bertolak belakang ketika anak sudah mulai memiliki kehendak, ingin bermain sendiri, punya kesukaan sendiri, dan punya ketertarikan sendiri kepada orang selain ibu. Dalam kondisi seperti ini, ibu (termasuk ayah) memulai proses dekateksasi.

Cinta kepada bayi lebih bersifat instingtif ‘parental instinct’, sama seperti jatuh cinta. Oleh karena itu, cinta kepada bayi belum bisa dikategorikan sebagai cinta yang tulus—ini adalah semacam insting untuk pemertahanan kelangsungan spesies. Cinta ibu ke anak baru mulai benar-benar “diuji” ketika anak berusia dua tahun. Orang Barat mengistilahkannya dengan “terrible two”; ketika anak mulai menyadari bahwa dia adalah manusia berbeda dan mandiri; ketika dia merasa harus menjadi pusat perhatian yang setiap keinginannya harus diperhatikan dan dituruti—ini adalah sifat alamiah anak di usia tersebut. Hampir semua ibu akan mengakui jika anak berusia dua tahun memang menyebalkan.

Di dalam Kitab Suci Alquran diajarkan doa, “Tuhan, sayangi kedua orang tua saya sebagaimana mereka menyayangi saya di waktu kecil.” Saya melihat klausa terakhir dalam doa yang indah ini sekaligus sebagai satir, bahwa rasa sayang orang tua di masa-masa selanjutnya cukup diragukan.

Cinta memang membutuhkan usaha, yang berangkat dari keputusan bebas untuk membuat yang tercinta mandiri dan tumbuh sehat secara fisik dan spiritual. Mencintai anak membutuhkan komitmen dan kepemimpinan: memberikan atau menolak, memuji dan mengkritik, berargumentasi, berkonfrontasi, menyemangati, membuat nyaman, dan semua itu harus dilakukan secara bijaksana. Kesemuanya ini tidak cukup dilakukan dengan insting belaka.

Cinta tidak diukur dari sebanyak apa yang diberikan. Sebagian orang tua sering mengungkit-ungkit ini saat terjadi konflik dengan anak, “Kamu sudah diberikan ASI, makan, uang sekolah, tapi apa balasanmu!?” Cinta yang tulus diukur dari tujuan mencintai itu sendiri, yaitu pertumbuhan spiritual. Jika ada tujuan lain yang terselip, maka itu tak lebih dari penguasaan atau pemanfaatan. Cinta yang tulus dan tidak itu seperti baik dan buruk, dapat dinilai secara objektif. Tidak bisa orang tua secara sepihak mengklaim telah mencintai; padahal, anaknya sama sekali tak merasa dicintai.

CEMBURU DAN CINTA BERDARAH


Lazim orang mengatakan bahwa cemburu adalah bumbu cinta. Namun, kecemburuan romantis justru kerap menjadi salah satu masalah dalam hubungan percintaan yang dikeluhkan di ruang-ruang konseling.

Para psikolog menganggap bahwa cemburu bertalian dengan cinta adalah sebuah kesalahpahaman. Gwendolyn Seidman, profesor psikologi di Albright College, mengumpulkan sejumlah riset mengenai cemburu. Menurutnya, tingkat kecemburuan seseorang dapat ditelusur dari latar belakang psikologisnya. Kecemburuan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor berikut:

1. Harga diri yang rendah.
2. Neurotisisme: dengan kecenderungan umum seperti gangguan mood, kecemasan, dan ketidakstabilan emosi.
3. Perasaan tak aman dan posesif
4. Bergantung dengan pasangan.
5. Merasa tidak sepadan: kecemasan bahwa seseorang tidak cukup baik dibandingkan dengan pasangannya.
6. Orientasi yang kronis terhadap hubungan romantis. Riset menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa aman, tingkat cemburunya menurun.

Seidman lalu menyimpulkan bahwa kecemburuan erat kaitannya dengan perasaan tidak aman para pencemburu, bukan pada besarnya cinta mereka kepada pasangan. Artinya, kecemburuan tidak bersinonim dengan cinta. Kecemburuan lebih seperti ketakutan akan kehilangan atau cara meminta perhatian.

Ada kutipan menarik dari filsuf India, Jiddu Krishnamurti (1895–1986) yang mengatakan bahwa kondisi mencintai hanya bisa terjadi ketika cemburu, iri, dan posesif telah lenyap; selama kita posesif, artinya kita belum mencintai.

Jika sering cemburu karena hal-hal sepele, Anda tidak sedang menunjukkan cinta, tetapi melulu soal ketidakamanan dalam diri sendiri. Ada lebih banyak masalah kepribadian dalam diri seseorang daripada cinta dalam kecemburuan. Bahkan, orang yang ekstrem dalam kecemburuan terkadang harus berakhir pada sebut saja "cinta berdarah", misalnya orang sampai membunuh atau melakukan kekerasan atas dasar api cemburu.

Terkadang cemburu dapat dibenarkan jika pasangan terbukti pernah mengkhianati kepercayaan kita, ini tentu masalah serius. Atau, Anda memiliki komitmen untuk monogami tetapi pasangan Anda merasa perlu menghimpun madu, maka kecemburuan Anda cukup beralasan, dan Anda mempunyai pilihan bebas untuk melanjutkan hubungan atau tidak.

Akan tetapi, secara positif cemburu tetap menandakan ada cinta yang dalam dan komitmen untuk menjaga hubungan yang stabil dengan cara melindungi kebersatuan.  Christine Harris and Caroline Prouvost dari University of California San Diego melakukan riset bahwa cemburu juga terdapat pada binatang. Anjing peliharaan, menurut temuan mereka, memiliki tingkat cemburu yang besar kepada tuannya. Anjing bisa mendadak menyela antara tuan dan objek yang dicemburui atau mendorong tuan/objeknya.

Sementara itu, psikolog David Buss menyebut cemburu sebagai respons adaptif sebagai cara melindungi pasangan. Dalam risetnya, Buss menyimpulkan bahwa pria memiliki kecemburuan lebih besar ketika pasangannya berada di puncak kecantikan, sedangkan perempuan lebih cemburu ketika pasangannya makmur dan status sosialnya tinggi.

Sekarang, mari kita lihat ke diri sendiri: kecemburuan yang ada dalam diri kita itu seperti apa. Yang jelas, yang wajib kita lakukan adalah melindungi, memelihara dan menyelamatkan hubungan. Jika itu dapat kita lakukan tanpa cemburu, saya kira perasaan itu tak perlu dilestarikan; kepercayaan dan komunikasi yang baik sebaiknya lebih di kedepankan.

Senin, 05 Agustus 2019

MENGHINDARI PERANGKAP ORANG TUA ATAS NAMA CINTA



Tugas parenting yang paling penting adalah melepaskan ikatan anak dengan orang tua. Melepaskan di sini berarti menyiapkan anak menjadi pribadi mandiri dengan kedirian yang unik, terpisah dari kedirian orang tua. Akan tetapi, sebagian orang tua tampak tidak memahami ini. Anak yang paling penurut dan tidak memiliki kedirian justru dipuji sebagai anak yang berbakti. Anak yang kehendak, cara pandang, perasaan, dan pemikirannya dikendalikan orang tua dianggap anak baik.

Pria yang tak mampu melepaskan ikatan dengan ibunya akan menjadi lelaki yang takut dengan komitmen. Hal ini dilakukannya supaya dia tetap dapat menjaga ikatannya dengan sang ibu. Pria seperti ini tidak akan bisa menjadi suami yang baik. Ketidakmampuan melepaskan ikatan dengan diri sang ibu inilah yang menjadi biang konflik menantu-mertua. Orang banyak mendiskusikannya, tetapi tidak menyentuh akarnya. Banyak orang takut untuk membicarakan otoritas, yang dalam hal ini adalah sosok ibu yang dianggap sebagai manusia suci. Bagaimanapun, menjadi orang tua bukan berarti lantas tidak lagi menjadi manusia, tempat salah dan lupa.

Seorang pria yang tak mampu melepaskan ikatan dengan ibunya di permulaan hubungan akan menganggap wanita seperti dewi, namun ketika hubungan sudah berjalan dan dia merasakan ternyata perempuan ini banyak masalah seperti manusia lainnya, pandangannya akan berubah drastis. Dia akan melihat pasangannya sebagai nenek sihir yang pantas untuk dihakimi, diumpat dan dikutuk. Relasi pria seperti ini dengan istrinya akan diwarnai kemarahan akibat proyeksinya tentang sosok ibu yang baik dalam dongeng-dongeng tidak ada pada istrinya. Cara pandang pria ini seperti anak kecil yang melihat sosok ibu sebagai wanita sempurna, akan tetapi ternyata sang istri tidak.

Sementara itu, perempuan yang tidak mampu melepaskan ikatan dengan sang ibu sering menjadi korban kekerasan lelaki. Hal ini terjadi karena ikatan fisik dan emosional yang kuat tersebut membuat sang ibu takut untuk terpisah. Karena ada penolakan dari ibu, sementara sang anak membutuhkan keterpisahan dan perkembangan secara alamiah, anak perempuan ini akan membawa depresi yang dalam. Sebagai respons dari depresi ini, anak perempuan akan mengembangkan kepribadian yang lemah dan tak berdaya. Kepribadian yang rapuh ini memantik, termasuk suami, untuk bebas melakukan penindasan.

Bradshaw (1992) menyatakan setiap orang perlu merayakan kelahiran psikologis atau kelahiran kedua, yaitu ketika anak pertama kali bisa bilang “tidak” atau “milikku”, sekitar usia setahun. Hal ini menandakan anak mulai sadar bahwa dirinya adalah pribadi yang terpisah dari orang tuanya. Pada fase ini, keterpisahan dan individuasi harus mulai dibina dan dihargai. Setiap orang tua harus memiliki kesadaran bahwa anak-anak mereka adalah pribadi mandiri yang khas, yang mungkin sama sekali berbeda dari dirinya. Ketika orang tua selalu ingin mengidentikkan anak-anak dengan diri mereka, anak-anak ini tidak akan pernah mengalami keterpisahan dan individuasi. Parenting memang tidak melulu soal memberikan kebutuhan sandang-pangan-papan, tetapi membutuhkan kebijaksanaan dan keberanian untuk membiarkan anak mengambil risiko demi pertumbuhannya dengan cara melonggarkan kendali. Tentu saja, lagi-lagi sayangnya, kendali penuh orang tua sering dianggap sebagai cinta.

Situasi paling sulit terjadi ketika kita memiliki orang tua yang narsisistik. Orang yang tulus mencintai akan memahami betul bahwa anak adalah seseorang dengan identitas terpisah dari diri mereka. Keterpisahan ini tidak hanya dihargai, tetapi mesti diajarkan dan dijaga. Akan tetapi, orang tua yang narisisitik akan gagal memahami keterpisahan ini sebagai salah satu jalan untuk membina hubungan yang sehat dan penuh cinta. Dalam hal apa pun, orang tua narsistik akan melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Misalnya, saat mengajarkan kedisiplinan ke anak, tujuan mereka bukan untuk kepentingan anak, tetapi untuk menjaga citra atau status mereka di masyarakat. Orang tua narsisistik akan menggunakan anak sebagai kepanjangan dirinya. Anak akan digunakan sebagai media untuk membanggakan sekaligus mengasihani diri. 

Morgan Scott Peck (1978:163) mengatakan ketidakmampuan memisahkan diri dengan orang lain, baik orang tua atau pasangan, akan berakhir dengan penderitaan yang tak perlu, jika tidak berakhir dengan sakit mental: dari depresi hingga skizofrenia (bukan berarti ini satu-satunya penyebab skizofrenia).  Perjalanan hidup seseorang yang penuh cinta membutuhkan lingkungan yang menghargai keunikan tiap-tiap individu, dan risikonya adalah keterpisahan atau kehilangan. Tak banyak orang mau mengambil dua risiko ini.

Untuk melepaskan ikatan dengan orang tua, cara paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah belajar berkata “tidak” secara langsung. Tidak semua yang dikatakan orang tua itu baik; tidak semua yang dikatakan orang tua itu benar-benar demi kepentingan anak; tidak semua keinginan orang tua mesti dipenuhi. Saya tidak hendak mengajari cara durhaka kepada orang tua, tetapi orang tua juga mesti belajar bahwa setiap orang wajib menjalankan tugas berdasarkan perannya masing-masing.


Minggu, 14 Juli 2019

MENDISIPLINKAN CINTA


Sebagian orang menganggap bahwa cinta adalah perasaan. Akan tetapi, saya lebih sepakat dengan pandangan bahwa cinta adalah usaha, sebuah tindakan yang lahir dari keputusan sadar.

Tidak sedikit orang yang mengaku telah merasakan mekarnya bunga-bunga cinta, namun tindakannya justru merusak. Oleh karena itu, cinta yang murni pastinya berasal dari kehendak, ketimbang sekadar luapan emosional. Saya mencintai seseorang karena saya telah memutuskan untuk mencintainya, bukan karena perasaan saya yang cengeng dan butuh perhatian.

Dalam psikologi Islam, perasaan yang tidak baik harus dilenyapkan, berikut efek sampingnya. Misalnya, marah adalah perasaan yang efek sampingnya adalah dendam, iri dan dengki. Orang mungkin tampak tidak marah, tetapi jika memendam dengki, artinya dia belum selesai dengan perasaan yang pertama tadi. Dalam agama Islam, perasaan negatif seperti marah hanya boleh diluapkan jika ada Hak Allah yang dilanggar.

Sementara itu, dalam psikologi Barat, perasaan apa pun justru mesti diungkapkan, dan yang perlu diatur adalah cara mengekspresikanya atau tindakan dari perasaan tersebut. Hal ini karena mereka meyakini bahwa cara satu-satunya cara untuk menghilangkan perasaan negatif adalah dengan membuangnya melalui pengungkapan. Jadi, baik dalam pandangan Islam atau Barat, perasaan yang buruk harus dilenyapkan—hanya mereka berbeda dalam cara menghilangkan perasaan negatif tersebut.

Saya suka dengan metafora yang dibuat Morgan Scott Peck (1978;156), bahwa perasaan itu seperti budak. Maksudnya, perasaan adalah sumber energi yang akan membantu kita menyelesaikan tugas-tugas kehidupan. Karena sudah membantu, kita mesti memperlakukan "budak" tersebut dengan baik. Jika sang tuan tidak mendisiplinkan budaknya, dia akan bekerja sembarangan, tanpa koordinasi dan arahan; jika tidak ada aturan, bakal tidak jelas siapa budak dan mana majikan. Akibatnya, budak ini akan mengacaukan struktur: bisa jadi sang majikan justru diperbudak oleh budaknya sendiri. Mari kita cermati di sekitar kita, adakah orang yang dikendalikan perasaan, yang kemudian berakhir dengan kekacauan dalam hidup?

Apabila cinta sekadar perasaan, tentu itu bukanlah cinta yang murni—sebagaimana saya pernah bahas tentang jatuh cinta. Pepatah lama kita hapal, "Tong kosong nyaring bunyinya; air beriak tanda tak dalam". Cinta romantis nan mendayu-dayu bak di film India biasanya justru cinta yang dangkal sama sekali. Perasaan yang tanpa kendali tak pernah terbukti lebih dalam daripada perasaan yang didisiplinkan.

Orang yang gagap dalam mengelola perasaan akan merusak kepribadiannya, yang paling sering adalah menimbulkan psikosis dan neurosis. Psikosis adalah kondisi abnormal yang penderitanya sulit membedakan antara yang nyata dan tidak. Sementara itu, neurosis adalah gangguan mental yang melibatkan pikiran-pikiran obsesif atau kecemasan. Jika cinta sebatas perasaan, justru lebih perlu pendisiplinan karena sudah banyak terbukti bahwa gara-gara perasaan ini orang dapat mengalami gangguan jiwa berat, sedangkan yang mengalami gangguan mental sedang atau ringan tidak terhitung.

Disiplin, yang merupakan piranti dasar dalam memecahkan setiap masalah, memiliki sejumlah komponen dasar: menunda kesenangan, tanggungjawab, sadar realitas, dan keseimbangan. Jika ada yang mengaku mencintai tetapi tanpa empat komponen dasar tersebut, itu bukan cinta hasil dari keputusan yang dewasa, tetapi sekadar dorongan libido. Cinta tanpa disiplin akan berakhir persis sama seperti pekerjaan tanpa kedisiplinan.

Disiplin menjadi tanda paling tegas bahwa seseorang mencintai dan menghargai dirinya sendiri. Jika eksistensi dirinya saja tidak dicintai dan dihargai, bagaimana orang seperti ini mampu berbagi cinta untuk diri yang lain. Orang yang sulit atau bahkan tidak bisa disiplin adalah karena dia tidak merasa dirinya bernilai; karena tidak bernilai, dia tidak mungkin mencintai dirinya, oleh karena itu dia tak merasa perlu mendisiplinkan diri. Disiplin dan cinta adalah satu paket, tak bisa dilepaskan.

Jangan pernah menjatuhkan pilihan pada orang-orang yang tidak bisa disiplin, untuk posisi apa pun, terutama untuk pasangan yang Anda andaikan bakal sehidup-semati. Perjalanan cinta Anda tidak akan ke mana-mana kecuali berujung kelamkabut: ekonomi Anda semrawut, perasaan Anda kalut, komunikasi Anda mampat, karir terhambat, hidup redup, yang mengakibatkan satu-satunya harapan hidup Anda adalah mitos.


Sabtu, 13 Juli 2019

SEPERTI INI RASANYA PUNYA DUA MADU



Madu yang dihasilkan lebah tentu manis dan menyehatkan, tapi tidak dengan “madu” dalam arti ‘daun benalu’. Madu dalam makna kedua inilah yang dipakai sebagai metafora untuk pesaing istri pertama dalam mengerogoti cinta suami.

Tak tanggung-tanggung, Mira (37) harus berhadapan dengan dua madu yang mengerosi perasaan tanpa dikehendaki. Menikah di usia muda, Mira harus menahan sendu karena suaminya melupakan janji untuk saling setia.

“Awalnya dia izin. Aku kasih masukan, tapi dia tak mau. Katanya dia sudah telanjur cinta, jadi aku terpaksa memberinya izin,” kata Mira.

Padahal, saat itu perkawinan Mira dan Santoso sudah menghasilkan dua anak. Mereka menikah pada 1999, saat usia Mira baru 17 tahun.

Peristiwa pahit itu dialami Mira pada 2012, saat anak pertamanya sudah berusia 12 tahun. Sang suami mengenal madu tersebut di Malaysia, tempat dia bekerja. Keduanya sama-sama mengadu nasib sebagai TKI di negeri jiran. Kita sebut saja sang madu ini dengan Mona.

Yang lebih menyakitkan dari kabar pernikahan siri sang suami adalah saat Santoso pulang ke tanah Jawa membawa sang madu dalam keadaan hamil 8 bulan. Tinggal beberapa saat di kampung halaman Mira, Santoso kemudian kembali lagi ke Malaysia dengan menitipkan Mona supaya dipergauli dengan cara saksama.

“Istri nomor duanya itu aku rawat sampai melahirkan. Selama 7 bulan aku merawatnya,” kenang Mira.
Mira mencoba untuk mengendalikan perasaannya. “Aku sayang sama dia; aku anggap dia saudaraku sendiri. Mula-mula dia juga baik sama aku,” imbuhnya.

Akan tetapi, dua tahun kemudian Mira merasa ada yang berubah dari Mona. “Dia jahat sama aku; dia iri sama aku,” ujar Mira.

Mira pun melanjutkan kisahnya dengan menceritakan kepulangan suaminya yang kedua dari Malaysia setelah membawa oleh-oleh madu tersebut, tepatnya pada 2014. Mona mengamuk karena Santoso pulang ke rumah Mira terlebih dulu.

Sebagai informasi, Mira dan Mona tinggal di dua kota berbeda di Jawa Timur. Santoso sendiri pulang ke rumah Mira mungkin karena lebih dekat dari kampung halamannya. Santoso dan Mira tinggal di sebuah desa yang bersebelahan.

Ketika mengetahui Santoso pulang, Mona segera menyusul ke rumah Mira dengan membawa bayinya yang baru 2 tahun. Mereka tinggal bertiga di rumah Mira selama kurang lebih empat bulan. Selama itu pula, Mira merasa diperlakukan bak pembantu oleh madu dan suaminya.

“Habis shalat shubuh aku sudah nyiapin buat sarapan. Semua pekerjaan rumah tangga aku yang ngerjain tanpa dibantu sama dia. Seluruh pakaian istri barunya itu, termasuk pakaian anaknya, aku yang nyuci. Aku juga yang mandiin anaknya,” ungkap Mira.

Ditanya tentang pembagian jatah tidur, Mira mengatakan bahwa selama empat bulan tersebut suaminya menemani sang madu semalam dan dirinya semalam.

“Akan tetapi, pas jatahku, suami lebih banyak tidur di ruang tamu, di depan TV,” bebernya.
Mira merasa disapih oleh suaminya. Akan tetapi, dia mengaku tetap bertahan demi melaksanakan kewajibannya sebagai istri.

“Aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri yg baik. Walau mereka dah jahat sama aku, aku tetap berlaku baik padanya. Aku sampai gak habis pikir, aku dah baik sama dia, tapi kok dia tega misahin aku dengan suamiku,” katanya sambil menambahkan bahwa kemungkinan madunya itu menggunakan guna-guna.

Kawin Tiga

Mira hanya bisa menyimpan rasa sakit yang dia alami. Mira mengadu kepada Tuhan supaya Mona merasakan sakitnya dikhianati oleh orang yang dicintai.

“Saking jengkelnya, aku pernah mengucap kata, ‘Suatu saat kamu pasti merasakan seperti yang kurasakan’,” Mira membatin.

Pola hubungan segitiga yang tak harmonis itu membuat Santoso kurang betah di rumah. Dia pun memutuskan balik ke Malaysia.

Hanya enam bulan setelah kepergian Santoso ke Malaysia pada 2014, Mira mendapatkan kabar bahwa suaminya sedang menghimpun istri yang ketiga.

“Mungkin itu doaku yang terkabul. Aku hanya bisa sabar, menerima, ikhlas. Semua kuserahkan sama Allah,” katanya.

Mira belum pernah jumpa dengan istri ketiga suaminya tersebut, kecuali lewat telepon seluler. Dari istrinya yang ketiga ini, Santoso juga memiliki satu anak laki-laki.

Ditanya tentang pembagian nafkah, Mira menunjukkan muka sedih sambil mengatakan bahwa sudah dua setengah tahun ini, dia tidak mendapatkan kabar apa pun dari suaminya, apalagi nafkah. Dia mengaku nomor telponnya diblokir.

“Yang kedua itu sudah benar-benar berhasil membuat suami melupakan kami,” katanya.

Sementara itu, dengan madu keduanya, Mira terkadang masih bertanya kabar lewat aplikasi WhatsApp. Kepada suaminya, Mira mengatakan kalau sudah tidak sudi lagi mengakuinya sebagai istri tidak mengapa asalkan kedua anaknya dicukupi kebutuhannya.

“Sampai kapan pun kedua anakku adalah tanggung jawabnya. Mereka butuh makan, butuh sekolah. Dia dah nyakitin aku lahir-batin, dah nyia-nyiakan aku itu sudah dosa besar. Apa mau nambah dosa lagi dengan menelantarkan anak,” kata Mona untuk suaminya.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mira saat ini berjualan es tebu dan menerima jahitan di rumahnya. Dia belum berpikir untuk menggugat cerai meskipun tak pernah mendapatkan sentuhan fisik sama sekali dari suaminya selama lebih dari 3 tahun terakhir. Mira mengaku saat ini lebih sibuk untuk memikirkan masa depan kedua anak kandungnya.

KONFLIK SEPUTAR UANG DAN SEKS


Di antara isu yang muncul dalam sebuah pernikahan adalah seputar uang dan seks. Pasangan selama bertahun-tahun tak henti-henti meributkan bagaimana seharusnya lalu lintas keuangan dikelola. Dalam beberapa kondisi, “konflik finansial” ini dijadikan alasan bagi pasangan untuk merobohkan bangunan pernikahan mereka.

Sementara itu, tak kalah menarik, seks juga kerap dijadikan ajang untuk berkonflik dengan pasangan. Konflik yang dipicu oleh seks terjadi pada beberapa situasi: menolak berhubungan seksual, menyakiti pasangan saat berhubungan seks, mengajak berhubungan seks tanpa kenal waktu dan kondisi, atau melakukan hubungan seks dengan orang lain.

Dalam pernikahan, uang adalah gizi, sedangkan seks adalah energi. Tanpa kecukupan finansial, sendi-sendi pernikahan akan lemas; tanpa seks, pernikahan akan suram. Karena urgensi keduanya, orang yang memiliki masalah tersebut sedang menunjukkan kerawanan hubungan.

Ada pasangan yang memang akar konfliknya adalah uang, seperti suami sakit menahun sehingga tak mampu bekerja. Sementara itu, masalah seks dipicu oleh disfungsi alat vital atau preferensi seksual, seperti seorang lesbian yang menikah dengan pria karena merasa terpaksa harus menikah padahal kecenderungannya tidak pernah berubah, atau seorang gay yang merasa terpaksa menikah dengan perempuan.

Akan tetapi, John dan Linda Friel (1988; 119) menyatakan konflik yang dipicu oleh uang dan seks sering hanya sekadar luapan dari isu mental (covert issues) yang tengah dihadapi pasangan. Pasangan yang di permukaan berdebat sengit tentang uang yang dialokasikan untuk keluarga lama, misalnya, sebenarnya dilatari oleh kebutuhan emosial yang tidak dicukupi oleh pasangan. Akan tetapi, dia terlalu takut untuk mengutarakannya secara langsung: dia takut bakal ditinggalkan jika mengungkapkannya, atau dia akan dianggap terlalu naif, manja dan kekanak-kanakan oleh pasangan. Dia lalu mencari objek konflik yang lebih jelas.

Istri merasa tidak aman dengan keberlangsungan pernikahannya, lalu dia menyimpan uang dan aset secara rahasia, sebagai antisipasi jika apa yang dikuatirkannya benar-benar terjadi. Ketika suami mengetahui aksi diam-diam tersebut, perceraian lalu benar-benar terjadi. Dalam kasus lain, suami-istri ribut terkait nama siapa yang harus dicantumkan dalam akte properti; masing-masing ngotot karena tidak aman dengan status pernikahannya. Suami tak memiliki waktu untuk memperhatikan istri, dia kemudian mencari kompensasi dengan membiayai gaya hidup istri yang boros. Suami tertutup terkait keuangan, karena sebetulnya dia memiliki simpanan istri ke sekian di sebuah apartemen.

Hal demikian terjadi juga pada isu seputar seks. Istri sedang marah, lalu dia menolak untuk dicolek. Suami sebetulnya tengah memendam amarah tetapi dia tidak dapat mengungkapkannya karena takut. Akhirnya, dia ekspresikan kontrol dan kuasanya lewat seks. Istri sangat bergantung dan bimbang dengan jati dirinya, dia kemudian meminta seks tiap malam hingga suami merasa kewalahan; jika tidak dituruti, dia merasa tidak dicintai.

Dalam pernikahan (juga di keluarga) apa yang tampak di luar (overt) adalah hasil dari apa yang ada di “dapur”. Di luar, pasangan tampak bahagia dan sumringah. Di balik itu, mereka merasa kosong, marah, cemas, galau, malu, kecanduan dan penuh dengan konflik batin.

Marina (30) kerap mengeluhkan suaminya yang dianggap kurang produktif dalam mencari uang, akan tetapi sering berkirim uang untuk keluarga lamanya.

“Sudah tahu buat anak-istrinya aja ngepas banget, tapi sering sok-sokan punya uang kalau di hadapan keluarganya,” keluhnya.

Jika ditelisik, sebetulnya penghasilan suami Marina di atas rata-rata; posisinya di tempat kerja juga cukup prestisius. Bahkan, sang suami menyerahkan semua penghasilan kepadanya, kemudian Marina bertindak sebagai bendahara, termasuk “menggaji” suaminya untuk keperluan sehari-hari.
Kalau dibandingkan dengan mayoritas koleganya di tempat kerja, seharusnya Marina lebih dapat bersyukur. Jadi, masalah utama Marina dan suaminya pasti bukan uang yang dikatakan minim tersebut.

Sebetulnya, akar masalah Marina adalah kemarahan pada sikap suami yang cuek dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak semata wayang mereka. Setiap bangun pagi, Marina harus sibuk dengan kegiatan masak, bersih-bersih dan (setelah lahir anak) memandikan dan menyuapi. Setelah semua beres, mereka baru sarapan bersama dan berangkat kerja, sedangkan anak dititipkan.

Ketidakmampuan Marina mengungkapkan kelelahan yang dia alami membuat dia mencari “objek” yang lebih jelas untuk disasar, sebagai pengganti mendiskusikan masalah yang sesungguhnya. Di pihak lain, merespons sikap Marina, sang suami kemudian mencari pengalihan kepada smartphone dan TV. Sang suami seolah mengatakan, “Daripada mendengar keluhanmu yang berulang-ulang, mending aku main hape atau nonton TV, lebih bikin hepi.” Akhirnya, objek konflik semakin bertambah.

Di tempat lain, seorang suami, sebut saja Marno (43), adalah seorang maniak seks. Dalam sehari, dia bisa minta sampai tiga kali. Sang istri terkadang sudah dandan dan berpakaian rapi siap berangkat bekerja, tapi Marno masih sempat-sempatnya menyeret ke kamar. Marno berhubungan seks bukan karena sedang “butuh”, tetapi karena dia “ingin”.

Marno adalah tipe suami yang kurang mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Profesinya sebagai editor lepas dan penulis (yang bukunya dapat dikatakan “tak laku-laku”) membuat penghasilannya tak pernah pasti. Kebutuhan sehari-hari lebih banyak dipenuhi oleh sang istri.
Demi menegaskan keberadaannya sebagai laki-laki sejati pemimpin di keluarga, luapan Marno adalah kendali atas seks. Marno seolah hendak menegaskan,”Saya memang tak pandai cari uang, tapi di ranjang saya adalah juaranya!”

Kata orang, di keluarga itu ada saja masalahnya. Pernyataan ini tentu memiliki kebenaran, akan tetapi akarnya biasanya tidak banyak. Masalah yang ada di permukaan (yang orang lihat) biasanya hanya daun pada sebuah pohon. Jika Anda pangkas daun yang dianggap mengganggu, kemungkinan akan tumbuh lagi di sebelahnya (masalah yang lain), sampai Anda temukan akarnya untuk benar-benar dapat ditumpas.