Sebagian
orang menganggap bahwa cinta adalah perasaan. Akan tetapi, saya lebih sepakat
dengan pandangan bahwa cinta adalah usaha, sebuah tindakan yang lahir dari
keputusan sadar.
Tidak
sedikit orang yang mengaku telah merasakan mekarnya bunga-bunga cinta, namun
tindakannya justru merusak. Oleh karena itu, cinta yang murni pastinya berasal
dari kehendak, ketimbang sekadar luapan emosional. Saya mencintai seseorang
karena saya telah memutuskan untuk mencintainya, bukan karena perasaan saya
yang cengeng dan butuh perhatian.
Dalam
psikologi Islam, perasaan yang tidak baik harus dilenyapkan, berikut efek
sampingnya. Misalnya, marah adalah perasaan yang efek sampingnya adalah dendam,
iri dan dengki. Orang mungkin tampak tidak marah, tetapi jika memendam dengki,
artinya dia belum selesai dengan perasaan yang pertama tadi. Dalam agama Islam,
perasaan negatif seperti marah hanya boleh diluapkan jika ada Hak Allah yang
dilanggar.
Sementara
itu, dalam psikologi Barat, perasaan apa pun justru mesti diungkapkan, dan yang
perlu diatur adalah cara mengekspresikanya atau tindakan dari perasaan
tersebut. Hal ini karena mereka meyakini bahwa cara satu-satunya cara untuk
menghilangkan perasaan negatif adalah dengan membuangnya melalui pengungkapan.
Jadi, baik dalam pandangan Islam atau Barat, perasaan yang buruk harus
dilenyapkan—hanya mereka berbeda dalam cara menghilangkan perasaan negatif
tersebut.
Saya suka
dengan metafora yang dibuat Morgan Scott Peck (1978;156), bahwa perasaan itu
seperti budak. Maksudnya, perasaan adalah sumber energi yang akan membantu kita
menyelesaikan tugas-tugas kehidupan. Karena sudah membantu, kita mesti
memperlakukan "budak" tersebut dengan baik. Jika sang tuan tidak
mendisiplinkan budaknya, dia akan bekerja sembarangan, tanpa koordinasi dan arahan;
jika tidak ada aturan, bakal tidak jelas siapa budak dan mana majikan.
Akibatnya, budak ini akan mengacaukan struktur: bisa jadi sang majikan justru
diperbudak oleh budaknya sendiri. Mari kita cermati di sekitar kita, adakah
orang yang dikendalikan perasaan, yang kemudian berakhir dengan kekacauan dalam
hidup?
Apabila
cinta sekadar perasaan, tentu itu bukanlah cinta yang murni—sebagaimana saya
pernah bahas tentang jatuh cinta. Pepatah lama kita hapal, "Tong kosong
nyaring bunyinya; air beriak tanda tak dalam". Cinta romantis nan
mendayu-dayu bak di film India biasanya justru cinta yang dangkal sama sekali.
Perasaan yang tanpa kendali tak pernah terbukti lebih dalam daripada perasaan
yang didisiplinkan.
Orang yang
gagap dalam mengelola perasaan akan merusak kepribadiannya, yang paling sering
adalah menimbulkan psikosis dan neurosis. Psikosis adalah kondisi abnormal yang
penderitanya sulit membedakan antara yang nyata dan tidak. Sementara itu,
neurosis adalah gangguan mental yang melibatkan pikiran-pikiran obsesif atau
kecemasan. Jika cinta sebatas perasaan, justru lebih perlu pendisiplinan karena
sudah banyak terbukti bahwa gara-gara perasaan ini orang dapat mengalami
gangguan jiwa berat, sedangkan yang mengalami gangguan mental sedang atau
ringan tidak terhitung.
Disiplin,
yang merupakan piranti dasar dalam memecahkan setiap masalah, memiliki sejumlah
komponen dasar: menunda kesenangan, tanggungjawab, sadar realitas, dan
keseimbangan. Jika ada yang mengaku mencintai tetapi tanpa empat komponen dasar
tersebut, itu bukan cinta hasil dari keputusan yang dewasa, tetapi sekadar
dorongan libido. Cinta tanpa disiplin akan berakhir persis sama seperti
pekerjaan tanpa kedisiplinan.
Disiplin
menjadi tanda paling tegas bahwa seseorang mencintai dan menghargai dirinya
sendiri. Jika eksistensi dirinya saja tidak dicintai dan dihargai, bagaimana
orang seperti ini mampu berbagi cinta untuk diri yang lain. Orang yang sulit
atau bahkan tidak bisa disiplin adalah karena dia tidak merasa dirinya
bernilai; karena tidak bernilai, dia tidak mungkin mencintai dirinya, oleh
karena itu dia tak merasa perlu mendisiplinkan diri. Disiplin dan cinta adalah
satu paket, tak bisa dilepaskan.
Jangan
pernah menjatuhkan pilihan pada orang-orang yang tidak bisa disiplin, untuk
posisi apa pun, terutama untuk pasangan yang Anda andaikan bakal
sehidup-semati. Perjalanan cinta Anda tidak akan ke mana-mana kecuali berujung
kelamkabut: ekonomi Anda semrawut, perasaan Anda kalut, komunikasi Anda mampat,
karir terhambat, hidup redup, yang mengakibatkan satu-satunya harapan hidup
Anda adalah mitos.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar