Minggu, 14 Juli 2019

MENDISIPLINKAN CINTA


Sebagian orang menganggap bahwa cinta adalah perasaan. Akan tetapi, saya lebih sepakat dengan pandangan bahwa cinta adalah usaha, sebuah tindakan yang lahir dari keputusan sadar.

Tidak sedikit orang yang mengaku telah merasakan mekarnya bunga-bunga cinta, namun tindakannya justru merusak. Oleh karena itu, cinta yang murni pastinya berasal dari kehendak, ketimbang sekadar luapan emosional. Saya mencintai seseorang karena saya telah memutuskan untuk mencintainya, bukan karena perasaan saya yang cengeng dan butuh perhatian.

Dalam psikologi Islam, perasaan yang tidak baik harus dilenyapkan, berikut efek sampingnya. Misalnya, marah adalah perasaan yang efek sampingnya adalah dendam, iri dan dengki. Orang mungkin tampak tidak marah, tetapi jika memendam dengki, artinya dia belum selesai dengan perasaan yang pertama tadi. Dalam agama Islam, perasaan negatif seperti marah hanya boleh diluapkan jika ada Hak Allah yang dilanggar.

Sementara itu, dalam psikologi Barat, perasaan apa pun justru mesti diungkapkan, dan yang perlu diatur adalah cara mengekspresikanya atau tindakan dari perasaan tersebut. Hal ini karena mereka meyakini bahwa cara satu-satunya cara untuk menghilangkan perasaan negatif adalah dengan membuangnya melalui pengungkapan. Jadi, baik dalam pandangan Islam atau Barat, perasaan yang buruk harus dilenyapkan—hanya mereka berbeda dalam cara menghilangkan perasaan negatif tersebut.

Saya suka dengan metafora yang dibuat Morgan Scott Peck (1978;156), bahwa perasaan itu seperti budak. Maksudnya, perasaan adalah sumber energi yang akan membantu kita menyelesaikan tugas-tugas kehidupan. Karena sudah membantu, kita mesti memperlakukan "budak" tersebut dengan baik. Jika sang tuan tidak mendisiplinkan budaknya, dia akan bekerja sembarangan, tanpa koordinasi dan arahan; jika tidak ada aturan, bakal tidak jelas siapa budak dan mana majikan. Akibatnya, budak ini akan mengacaukan struktur: bisa jadi sang majikan justru diperbudak oleh budaknya sendiri. Mari kita cermati di sekitar kita, adakah orang yang dikendalikan perasaan, yang kemudian berakhir dengan kekacauan dalam hidup?

Apabila cinta sekadar perasaan, tentu itu bukanlah cinta yang murni—sebagaimana saya pernah bahas tentang jatuh cinta. Pepatah lama kita hapal, "Tong kosong nyaring bunyinya; air beriak tanda tak dalam". Cinta romantis nan mendayu-dayu bak di film India biasanya justru cinta yang dangkal sama sekali. Perasaan yang tanpa kendali tak pernah terbukti lebih dalam daripada perasaan yang didisiplinkan.

Orang yang gagap dalam mengelola perasaan akan merusak kepribadiannya, yang paling sering adalah menimbulkan psikosis dan neurosis. Psikosis adalah kondisi abnormal yang penderitanya sulit membedakan antara yang nyata dan tidak. Sementara itu, neurosis adalah gangguan mental yang melibatkan pikiran-pikiran obsesif atau kecemasan. Jika cinta sebatas perasaan, justru lebih perlu pendisiplinan karena sudah banyak terbukti bahwa gara-gara perasaan ini orang dapat mengalami gangguan jiwa berat, sedangkan yang mengalami gangguan mental sedang atau ringan tidak terhitung.

Disiplin, yang merupakan piranti dasar dalam memecahkan setiap masalah, memiliki sejumlah komponen dasar: menunda kesenangan, tanggungjawab, sadar realitas, dan keseimbangan. Jika ada yang mengaku mencintai tetapi tanpa empat komponen dasar tersebut, itu bukan cinta hasil dari keputusan yang dewasa, tetapi sekadar dorongan libido. Cinta tanpa disiplin akan berakhir persis sama seperti pekerjaan tanpa kedisiplinan.

Disiplin menjadi tanda paling tegas bahwa seseorang mencintai dan menghargai dirinya sendiri. Jika eksistensi dirinya saja tidak dicintai dan dihargai, bagaimana orang seperti ini mampu berbagi cinta untuk diri yang lain. Orang yang sulit atau bahkan tidak bisa disiplin adalah karena dia tidak merasa dirinya bernilai; karena tidak bernilai, dia tidak mungkin mencintai dirinya, oleh karena itu dia tak merasa perlu mendisiplinkan diri. Disiplin dan cinta adalah satu paket, tak bisa dilepaskan.

Jangan pernah menjatuhkan pilihan pada orang-orang yang tidak bisa disiplin, untuk posisi apa pun, terutama untuk pasangan yang Anda andaikan bakal sehidup-semati. Perjalanan cinta Anda tidak akan ke mana-mana kecuali berujung kelamkabut: ekonomi Anda semrawut, perasaan Anda kalut, komunikasi Anda mampat, karir terhambat, hidup redup, yang mengakibatkan satu-satunya harapan hidup Anda adalah mitos.


Sabtu, 13 Juli 2019

SEPERTI INI RASANYA PUNYA DUA MADU



Madu yang dihasilkan lebah tentu manis dan menyehatkan, tapi tidak dengan “madu” dalam arti ‘daun benalu’. Madu dalam makna kedua inilah yang dipakai sebagai metafora untuk pesaing istri pertama dalam mengerogoti cinta suami.

Tak tanggung-tanggung, Mira (37) harus berhadapan dengan dua madu yang mengerosi perasaan tanpa dikehendaki. Menikah di usia muda, Mira harus menahan sendu karena suaminya melupakan janji untuk saling setia.

“Awalnya dia izin. Aku kasih masukan, tapi dia tak mau. Katanya dia sudah telanjur cinta, jadi aku terpaksa memberinya izin,” kata Mira.

Padahal, saat itu perkawinan Mira dan Santoso sudah menghasilkan dua anak. Mereka menikah pada 1999, saat usia Mira baru 17 tahun.

Peristiwa pahit itu dialami Mira pada 2012, saat anak pertamanya sudah berusia 12 tahun. Sang suami mengenal madu tersebut di Malaysia, tempat dia bekerja. Keduanya sama-sama mengadu nasib sebagai TKI di negeri jiran. Kita sebut saja sang madu ini dengan Mona.

Yang lebih menyakitkan dari kabar pernikahan siri sang suami adalah saat Santoso pulang ke tanah Jawa membawa sang madu dalam keadaan hamil 8 bulan. Tinggal beberapa saat di kampung halaman Mira, Santoso kemudian kembali lagi ke Malaysia dengan menitipkan Mona supaya dipergauli dengan cara saksama.

“Istri nomor duanya itu aku rawat sampai melahirkan. Selama 7 bulan aku merawatnya,” kenang Mira.
Mira mencoba untuk mengendalikan perasaannya. “Aku sayang sama dia; aku anggap dia saudaraku sendiri. Mula-mula dia juga baik sama aku,” imbuhnya.

Akan tetapi, dua tahun kemudian Mira merasa ada yang berubah dari Mona. “Dia jahat sama aku; dia iri sama aku,” ujar Mira.

Mira pun melanjutkan kisahnya dengan menceritakan kepulangan suaminya yang kedua dari Malaysia setelah membawa oleh-oleh madu tersebut, tepatnya pada 2014. Mona mengamuk karena Santoso pulang ke rumah Mira terlebih dulu.

Sebagai informasi, Mira dan Mona tinggal di dua kota berbeda di Jawa Timur. Santoso sendiri pulang ke rumah Mira mungkin karena lebih dekat dari kampung halamannya. Santoso dan Mira tinggal di sebuah desa yang bersebelahan.

Ketika mengetahui Santoso pulang, Mona segera menyusul ke rumah Mira dengan membawa bayinya yang baru 2 tahun. Mereka tinggal bertiga di rumah Mira selama kurang lebih empat bulan. Selama itu pula, Mira merasa diperlakukan bak pembantu oleh madu dan suaminya.

“Habis shalat shubuh aku sudah nyiapin buat sarapan. Semua pekerjaan rumah tangga aku yang ngerjain tanpa dibantu sama dia. Seluruh pakaian istri barunya itu, termasuk pakaian anaknya, aku yang nyuci. Aku juga yang mandiin anaknya,” ungkap Mira.

Ditanya tentang pembagian jatah tidur, Mira mengatakan bahwa selama empat bulan tersebut suaminya menemani sang madu semalam dan dirinya semalam.

“Akan tetapi, pas jatahku, suami lebih banyak tidur di ruang tamu, di depan TV,” bebernya.
Mira merasa disapih oleh suaminya. Akan tetapi, dia mengaku tetap bertahan demi melaksanakan kewajibannya sebagai istri.

“Aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri yg baik. Walau mereka dah jahat sama aku, aku tetap berlaku baik padanya. Aku sampai gak habis pikir, aku dah baik sama dia, tapi kok dia tega misahin aku dengan suamiku,” katanya sambil menambahkan bahwa kemungkinan madunya itu menggunakan guna-guna.

Kawin Tiga

Mira hanya bisa menyimpan rasa sakit yang dia alami. Mira mengadu kepada Tuhan supaya Mona merasakan sakitnya dikhianati oleh orang yang dicintai.

“Saking jengkelnya, aku pernah mengucap kata, ‘Suatu saat kamu pasti merasakan seperti yang kurasakan’,” Mira membatin.

Pola hubungan segitiga yang tak harmonis itu membuat Santoso kurang betah di rumah. Dia pun memutuskan balik ke Malaysia.

Hanya enam bulan setelah kepergian Santoso ke Malaysia pada 2014, Mira mendapatkan kabar bahwa suaminya sedang menghimpun istri yang ketiga.

“Mungkin itu doaku yang terkabul. Aku hanya bisa sabar, menerima, ikhlas. Semua kuserahkan sama Allah,” katanya.

Mira belum pernah jumpa dengan istri ketiga suaminya tersebut, kecuali lewat telepon seluler. Dari istrinya yang ketiga ini, Santoso juga memiliki satu anak laki-laki.

Ditanya tentang pembagian nafkah, Mira menunjukkan muka sedih sambil mengatakan bahwa sudah dua setengah tahun ini, dia tidak mendapatkan kabar apa pun dari suaminya, apalagi nafkah. Dia mengaku nomor telponnya diblokir.

“Yang kedua itu sudah benar-benar berhasil membuat suami melupakan kami,” katanya.

Sementara itu, dengan madu keduanya, Mira terkadang masih bertanya kabar lewat aplikasi WhatsApp. Kepada suaminya, Mira mengatakan kalau sudah tidak sudi lagi mengakuinya sebagai istri tidak mengapa asalkan kedua anaknya dicukupi kebutuhannya.

“Sampai kapan pun kedua anakku adalah tanggung jawabnya. Mereka butuh makan, butuh sekolah. Dia dah nyakitin aku lahir-batin, dah nyia-nyiakan aku itu sudah dosa besar. Apa mau nambah dosa lagi dengan menelantarkan anak,” kata Mona untuk suaminya.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mira saat ini berjualan es tebu dan menerima jahitan di rumahnya. Dia belum berpikir untuk menggugat cerai meskipun tak pernah mendapatkan sentuhan fisik sama sekali dari suaminya selama lebih dari 3 tahun terakhir. Mira mengaku saat ini lebih sibuk untuk memikirkan masa depan kedua anak kandungnya.

KONFLIK SEPUTAR UANG DAN SEKS


Di antara isu yang muncul dalam sebuah pernikahan adalah seputar uang dan seks. Pasangan selama bertahun-tahun tak henti-henti meributkan bagaimana seharusnya lalu lintas keuangan dikelola. Dalam beberapa kondisi, “konflik finansial” ini dijadikan alasan bagi pasangan untuk merobohkan bangunan pernikahan mereka.

Sementara itu, tak kalah menarik, seks juga kerap dijadikan ajang untuk berkonflik dengan pasangan. Konflik yang dipicu oleh seks terjadi pada beberapa situasi: menolak berhubungan seksual, menyakiti pasangan saat berhubungan seks, mengajak berhubungan seks tanpa kenal waktu dan kondisi, atau melakukan hubungan seks dengan orang lain.

Dalam pernikahan, uang adalah gizi, sedangkan seks adalah energi. Tanpa kecukupan finansial, sendi-sendi pernikahan akan lemas; tanpa seks, pernikahan akan suram. Karena urgensi keduanya, orang yang memiliki masalah tersebut sedang menunjukkan kerawanan hubungan.

Ada pasangan yang memang akar konfliknya adalah uang, seperti suami sakit menahun sehingga tak mampu bekerja. Sementara itu, masalah seks dipicu oleh disfungsi alat vital atau preferensi seksual, seperti seorang lesbian yang menikah dengan pria karena merasa terpaksa harus menikah padahal kecenderungannya tidak pernah berubah, atau seorang gay yang merasa terpaksa menikah dengan perempuan.

Akan tetapi, John dan Linda Friel (1988; 119) menyatakan konflik yang dipicu oleh uang dan seks sering hanya sekadar luapan dari isu mental (covert issues) yang tengah dihadapi pasangan. Pasangan yang di permukaan berdebat sengit tentang uang yang dialokasikan untuk keluarga lama, misalnya, sebenarnya dilatari oleh kebutuhan emosial yang tidak dicukupi oleh pasangan. Akan tetapi, dia terlalu takut untuk mengutarakannya secara langsung: dia takut bakal ditinggalkan jika mengungkapkannya, atau dia akan dianggap terlalu naif, manja dan kekanak-kanakan oleh pasangan. Dia lalu mencari objek konflik yang lebih jelas.

Istri merasa tidak aman dengan keberlangsungan pernikahannya, lalu dia menyimpan uang dan aset secara rahasia, sebagai antisipasi jika apa yang dikuatirkannya benar-benar terjadi. Ketika suami mengetahui aksi diam-diam tersebut, perceraian lalu benar-benar terjadi. Dalam kasus lain, suami-istri ribut terkait nama siapa yang harus dicantumkan dalam akte properti; masing-masing ngotot karena tidak aman dengan status pernikahannya. Suami tak memiliki waktu untuk memperhatikan istri, dia kemudian mencari kompensasi dengan membiayai gaya hidup istri yang boros. Suami tertutup terkait keuangan, karena sebetulnya dia memiliki simpanan istri ke sekian di sebuah apartemen.

Hal demikian terjadi juga pada isu seputar seks. Istri sedang marah, lalu dia menolak untuk dicolek. Suami sebetulnya tengah memendam amarah tetapi dia tidak dapat mengungkapkannya karena takut. Akhirnya, dia ekspresikan kontrol dan kuasanya lewat seks. Istri sangat bergantung dan bimbang dengan jati dirinya, dia kemudian meminta seks tiap malam hingga suami merasa kewalahan; jika tidak dituruti, dia merasa tidak dicintai.

Dalam pernikahan (juga di keluarga) apa yang tampak di luar (overt) adalah hasil dari apa yang ada di “dapur”. Di luar, pasangan tampak bahagia dan sumringah. Di balik itu, mereka merasa kosong, marah, cemas, galau, malu, kecanduan dan penuh dengan konflik batin.

Marina (30) kerap mengeluhkan suaminya yang dianggap kurang produktif dalam mencari uang, akan tetapi sering berkirim uang untuk keluarga lamanya.

“Sudah tahu buat anak-istrinya aja ngepas banget, tapi sering sok-sokan punya uang kalau di hadapan keluarganya,” keluhnya.

Jika ditelisik, sebetulnya penghasilan suami Marina di atas rata-rata; posisinya di tempat kerja juga cukup prestisius. Bahkan, sang suami menyerahkan semua penghasilan kepadanya, kemudian Marina bertindak sebagai bendahara, termasuk “menggaji” suaminya untuk keperluan sehari-hari.
Kalau dibandingkan dengan mayoritas koleganya di tempat kerja, seharusnya Marina lebih dapat bersyukur. Jadi, masalah utama Marina dan suaminya pasti bukan uang yang dikatakan minim tersebut.

Sebetulnya, akar masalah Marina adalah kemarahan pada sikap suami yang cuek dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak semata wayang mereka. Setiap bangun pagi, Marina harus sibuk dengan kegiatan masak, bersih-bersih dan (setelah lahir anak) memandikan dan menyuapi. Setelah semua beres, mereka baru sarapan bersama dan berangkat kerja, sedangkan anak dititipkan.

Ketidakmampuan Marina mengungkapkan kelelahan yang dia alami membuat dia mencari “objek” yang lebih jelas untuk disasar, sebagai pengganti mendiskusikan masalah yang sesungguhnya. Di pihak lain, merespons sikap Marina, sang suami kemudian mencari pengalihan kepada smartphone dan TV. Sang suami seolah mengatakan, “Daripada mendengar keluhanmu yang berulang-ulang, mending aku main hape atau nonton TV, lebih bikin hepi.” Akhirnya, objek konflik semakin bertambah.

Di tempat lain, seorang suami, sebut saja Marno (43), adalah seorang maniak seks. Dalam sehari, dia bisa minta sampai tiga kali. Sang istri terkadang sudah dandan dan berpakaian rapi siap berangkat bekerja, tapi Marno masih sempat-sempatnya menyeret ke kamar. Marno berhubungan seks bukan karena sedang “butuh”, tetapi karena dia “ingin”.

Marno adalah tipe suami yang kurang mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Profesinya sebagai editor lepas dan penulis (yang bukunya dapat dikatakan “tak laku-laku”) membuat penghasilannya tak pernah pasti. Kebutuhan sehari-hari lebih banyak dipenuhi oleh sang istri.
Demi menegaskan keberadaannya sebagai laki-laki sejati pemimpin di keluarga, luapan Marno adalah kendali atas seks. Marno seolah hendak menegaskan,”Saya memang tak pandai cari uang, tapi di ranjang saya adalah juaranya!”

Kata orang, di keluarga itu ada saja masalahnya. Pernyataan ini tentu memiliki kebenaran, akan tetapi akarnya biasanya tidak banyak. Masalah yang ada di permukaan (yang orang lihat) biasanya hanya daun pada sebuah pohon. Jika Anda pangkas daun yang dianggap mengganggu, kemungkinan akan tumbuh lagi di sebelahnya (masalah yang lain), sampai Anda temukan akarnya untuk benar-benar dapat ditumpas.