Minggu, 29 September 2019

CINTA ORANG TUA KE ANAK: TULUS ATAU PENUH MOTIF?




Cinta orang tua sepanjang jalan; cinta anak sepanjang galah, sepenggal pepatah lama yang kita ingat betul sejak sekolah. Majas ini untuk menggambarkan betapa cinta orang tua itu tak terukur. Akan tetapi, bagaimana jika jalan yang dijadikan ranah sumber metafora tersebut penuh lubang atau terputus seperti banyak ruas jalan di pelosok Indonesia?

Di sepanjang pengalaman, kita lebih sering menerima pengajaran tentang kemuliaan orang tua dan kewajiban anak terhadap orang tua. Mencermati hubungan anak-orang tua dari sudut pandang anak kurang mendapatkan tempat dalam masyarakat kita, termasuk membicarakan cinta orang tua ke anak. Bahkan, ketika kita mencoba berada di tengah pun, sulit untuk tidak dikritik.

Kita mewarisi kepercayaan bahwa cinta orang tua ke anak adalah otomatis, tulus, sepanjang hayat, dan oleh karena itu tidak perlu diganggu-gugat laiknya sebuah keputusan mahkamah. Akibatnya, kita digelayuti keyakinan bahwa semua keputusan orang tua atas anak harus dilaksanakan karena itu didasarkan atas cinta, semata-mata demi kebagusan sang anak itu sendiri—orang tua bebas dari bias.

Namun, jika kita telisik dengan saksama, terdapat banyak gejala bahwa apa yang dinamakan cinta orang tua tersebut tak lebih dari sebuah kateksis (cathexis), penguasaan, dan pemanfaatan. Bahkan, gejala tersebut muncul dalam seminar-seminar parenting. Misalnya, ada sebuah seminar di kampus tempat saya mengajar dengan tema “Anak: Investasi Dunia Akhirat”.

Secara gamblang pesan yang bisa ditangkap dari tema tersebut adalah menjadikan anak sebagai komoditas atau saham yang ditunggu keuntungannya untuk dikeruk. Ini adalah contoh bentuk pemanfaatan anak untuk kepentingan orang tua, anak sekadar objek yang bisa dieksplotasi secara duniawi supaya bisa memberikan upeti di usia senja, atau diharapkan syafaatnya kelak di akhirat. Tentu saja panitia akan mencak-mencak dan menolak penafsiran seperti itu, akan tetapi siapa pun mudah mencari pembenaran ketika sebuah kesalahan telanjur terkuak. Para linguis meyakini bahwa cara pandang mempengaruhi pilihan kosakata kita.

Di tempat lain, terkadang ekspresi “cinta” orang tua ke anak sekadar kateksis. Morgan Scott Peck (1978: 117) mendefinisikan kateksis sebagai proses yang dengannya sebuah objek menjadi penting bagi kita. Kala seseorang terkateksasi, sebuah objek akan diasosiasikan sebagai “sesuatu yang dicintai” karena bakal ada energi yang diinvestasikan sehingga seolah-olah hal itu menjadi bagian dari diri seseorang. Hubungan antara objek dan orang itulah yang disebut kateksis. Sementara itu, proses menarik energi kita dari “objek yang dicintai” disebut dengan dekateksasi.

Untuk mencermati contoh dari kateksis, yang tampak seperti cinta ini, kita dapat melihat bagaimana orang mencintai binatang peliharaannya. Cinta terhadap binatang tidak dapat disebut sebagai cinta karena minus komunikasi. Kita tidak tahu apa yang ada di kepala binatang kesayangan sehingga mudah bagi kita untuk memproyeksikan pikiran kita sendiri kepada binatang tersebut. Kedua, binatang hanya mau bersama kita ketika kebetulan kebutuhannya sejalan dengan kebutuhan kita terhadapnya. Hal ini menjadi dasar kita memilih binatang apa yang akan kita pelihara. Satu-satunya yang kita harapkan dari binatang peliharaan ini adalah kepatuhannya terhadap kehendak kita—semakin menuruti kehendak kita, binatang semakin dianggap istimewa. Selanjutnya, hubungan kita dengan binatang adalah pemeliharaan ketergantungan: kita tidak ingin mereka kabur, kita hanya ingin dia bersama. Nilai binatang ditentukan sejauh mana dia melekat dengan kita.

Sebagian orang tua hanya mampu mencintai anaknya seperti cinta kepada binatang tersebut: anak hanya diproyeksikan untuk menuruti keinginan orang tua. Seorang ibu hanya mampu mencintai anaknya saat bayi: bercanda dan bermain dengannya, menyusui, bersenandung, sangat memperhatikan kebutuhannya, dan merasa bangga sebagai perempuan karena bisa hamil dan melahirkan anak. Namun, kondisi ini bisa bertolak belakang ketika anak sudah mulai memiliki kehendak, ingin bermain sendiri, punya kesukaan sendiri, dan punya ketertarikan sendiri kepada orang selain ibu. Dalam kondisi seperti ini, ibu (termasuk ayah) memulai proses dekateksasi.

Cinta kepada bayi lebih bersifat instingtif ‘parental instinct’, sama seperti jatuh cinta. Oleh karena itu, cinta kepada bayi belum bisa dikategorikan sebagai cinta yang tulus—ini adalah semacam insting untuk pemertahanan kelangsungan spesies. Cinta ibu ke anak baru mulai benar-benar “diuji” ketika anak berusia dua tahun. Orang Barat mengistilahkannya dengan “terrible two”; ketika anak mulai menyadari bahwa dia adalah manusia berbeda dan mandiri; ketika dia merasa harus menjadi pusat perhatian yang setiap keinginannya harus diperhatikan dan dituruti—ini adalah sifat alamiah anak di usia tersebut. Hampir semua ibu akan mengakui jika anak berusia dua tahun memang menyebalkan.

Di dalam Kitab Suci Alquran diajarkan doa, “Tuhan, sayangi kedua orang tua saya sebagaimana mereka menyayangi saya di waktu kecil.” Saya melihat klausa terakhir dalam doa yang indah ini sekaligus sebagai satir, bahwa rasa sayang orang tua di masa-masa selanjutnya cukup diragukan.

Cinta memang membutuhkan usaha, yang berangkat dari keputusan bebas untuk membuat yang tercinta mandiri dan tumbuh sehat secara fisik dan spiritual. Mencintai anak membutuhkan komitmen dan kepemimpinan: memberikan atau menolak, memuji dan mengkritik, berargumentasi, berkonfrontasi, menyemangati, membuat nyaman, dan semua itu harus dilakukan secara bijaksana. Kesemuanya ini tidak cukup dilakukan dengan insting belaka.

Cinta tidak diukur dari sebanyak apa yang diberikan. Sebagian orang tua sering mengungkit-ungkit ini saat terjadi konflik dengan anak, “Kamu sudah diberikan ASI, makan, uang sekolah, tapi apa balasanmu!?” Cinta yang tulus diukur dari tujuan mencintai itu sendiri, yaitu pertumbuhan spiritual. Jika ada tujuan lain yang terselip, maka itu tak lebih dari penguasaan atau pemanfaatan. Cinta yang tulus dan tidak itu seperti baik dan buruk, dapat dinilai secara objektif. Tidak bisa orang tua secara sepihak mengklaim telah mencintai; padahal, anaknya sama sekali tak merasa dicintai.

CEMBURU DAN CINTA BERDARAH


Lazim orang mengatakan bahwa cemburu adalah bumbu cinta. Namun, kecemburuan romantis justru kerap menjadi salah satu masalah dalam hubungan percintaan yang dikeluhkan di ruang-ruang konseling.

Para psikolog menganggap bahwa cemburu bertalian dengan cinta adalah sebuah kesalahpahaman. Gwendolyn Seidman, profesor psikologi di Albright College, mengumpulkan sejumlah riset mengenai cemburu. Menurutnya, tingkat kecemburuan seseorang dapat ditelusur dari latar belakang psikologisnya. Kecemburuan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor berikut:

1. Harga diri yang rendah.
2. Neurotisisme: dengan kecenderungan umum seperti gangguan mood, kecemasan, dan ketidakstabilan emosi.
3. Perasaan tak aman dan posesif
4. Bergantung dengan pasangan.
5. Merasa tidak sepadan: kecemasan bahwa seseorang tidak cukup baik dibandingkan dengan pasangannya.
6. Orientasi yang kronis terhadap hubungan romantis. Riset menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa aman, tingkat cemburunya menurun.

Seidman lalu menyimpulkan bahwa kecemburuan erat kaitannya dengan perasaan tidak aman para pencemburu, bukan pada besarnya cinta mereka kepada pasangan. Artinya, kecemburuan tidak bersinonim dengan cinta. Kecemburuan lebih seperti ketakutan akan kehilangan atau cara meminta perhatian.

Ada kutipan menarik dari filsuf India, Jiddu Krishnamurti (1895–1986) yang mengatakan bahwa kondisi mencintai hanya bisa terjadi ketika cemburu, iri, dan posesif telah lenyap; selama kita posesif, artinya kita belum mencintai.

Jika sering cemburu karena hal-hal sepele, Anda tidak sedang menunjukkan cinta, tetapi melulu soal ketidakamanan dalam diri sendiri. Ada lebih banyak masalah kepribadian dalam diri seseorang daripada cinta dalam kecemburuan. Bahkan, orang yang ekstrem dalam kecemburuan terkadang harus berakhir pada sebut saja "cinta berdarah", misalnya orang sampai membunuh atau melakukan kekerasan atas dasar api cemburu.

Terkadang cemburu dapat dibenarkan jika pasangan terbukti pernah mengkhianati kepercayaan kita, ini tentu masalah serius. Atau, Anda memiliki komitmen untuk monogami tetapi pasangan Anda merasa perlu menghimpun madu, maka kecemburuan Anda cukup beralasan, dan Anda mempunyai pilihan bebas untuk melanjutkan hubungan atau tidak.

Akan tetapi, secara positif cemburu tetap menandakan ada cinta yang dalam dan komitmen untuk menjaga hubungan yang stabil dengan cara melindungi kebersatuan.  Christine Harris and Caroline Prouvost dari University of California San Diego melakukan riset bahwa cemburu juga terdapat pada binatang. Anjing peliharaan, menurut temuan mereka, memiliki tingkat cemburu yang besar kepada tuannya. Anjing bisa mendadak menyela antara tuan dan objek yang dicemburui atau mendorong tuan/objeknya.

Sementara itu, psikolog David Buss menyebut cemburu sebagai respons adaptif sebagai cara melindungi pasangan. Dalam risetnya, Buss menyimpulkan bahwa pria memiliki kecemburuan lebih besar ketika pasangannya berada di puncak kecantikan, sedangkan perempuan lebih cemburu ketika pasangannya makmur dan status sosialnya tinggi.

Sekarang, mari kita lihat ke diri sendiri: kecemburuan yang ada dalam diri kita itu seperti apa. Yang jelas, yang wajib kita lakukan adalah melindungi, memelihara dan menyelamatkan hubungan. Jika itu dapat kita lakukan tanpa cemburu, saya kira perasaan itu tak perlu dilestarikan; kepercayaan dan komunikasi yang baik sebaiknya lebih di kedepankan.