Lazim orang mengatakan bahwa cemburu adalah bumbu cinta.
Namun, kecemburuan romantis justru kerap menjadi salah satu masalah dalam
hubungan percintaan yang dikeluhkan di ruang-ruang konseling.
Para psikolog menganggap bahwa cemburu bertalian dengan
cinta adalah sebuah kesalahpahaman. Gwendolyn Seidman, profesor psikologi di
Albright College, mengumpulkan sejumlah riset mengenai cemburu. Menurutnya,
tingkat kecemburuan seseorang dapat ditelusur dari latar belakang
psikologisnya. Kecemburuan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor berikut:
1. Harga diri yang rendah.
2. Neurotisisme: dengan kecenderungan umum seperti gangguan
mood, kecemasan, dan ketidakstabilan emosi.
3. Perasaan tak aman dan posesif
4. Bergantung dengan pasangan.
5. Merasa tidak sepadan: kecemasan bahwa seseorang tidak
cukup baik dibandingkan dengan pasangannya.
6. Orientasi yang kronis terhadap hubungan romantis. Riset
menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa aman, tingkat cemburunya menurun.
Seidman lalu menyimpulkan bahwa kecemburuan erat kaitannya
dengan perasaan tidak aman para pencemburu, bukan pada besarnya cinta mereka
kepada pasangan. Artinya, kecemburuan tidak bersinonim dengan cinta.
Kecemburuan lebih seperti ketakutan akan kehilangan atau cara meminta
perhatian.
Ada kutipan menarik dari filsuf India, Jiddu Krishnamurti
(1895–1986) yang mengatakan bahwa kondisi mencintai hanya bisa terjadi ketika
cemburu, iri, dan posesif telah lenyap; selama kita posesif, artinya kita belum
mencintai.
Jika sering cemburu karena hal-hal sepele, Anda tidak sedang
menunjukkan cinta, tetapi melulu soal ketidakamanan dalam diri sendiri. Ada
lebih banyak masalah kepribadian dalam diri seseorang daripada cinta dalam
kecemburuan. Bahkan, orang yang ekstrem dalam kecemburuan terkadang harus
berakhir pada sebut saja "cinta berdarah", misalnya orang sampai
membunuh atau melakukan kekerasan atas dasar api cemburu.
Terkadang cemburu dapat dibenarkan jika pasangan terbukti
pernah mengkhianati kepercayaan kita, ini tentu masalah serius. Atau, Anda
memiliki komitmen untuk monogami tetapi pasangan Anda merasa perlu menghimpun
madu, maka kecemburuan Anda cukup beralasan, dan Anda mempunyai pilihan bebas
untuk melanjutkan hubungan atau tidak.
Akan tetapi, secara positif cemburu tetap menandakan ada
cinta yang dalam dan komitmen untuk menjaga hubungan yang stabil dengan cara
melindungi kebersatuan. Christine Harris
and Caroline Prouvost dari University of California San Diego melakukan riset
bahwa cemburu juga terdapat pada binatang. Anjing peliharaan, menurut temuan
mereka, memiliki tingkat cemburu yang besar kepada tuannya. Anjing bisa
mendadak menyela antara tuan dan objek yang dicemburui atau mendorong
tuan/objeknya.
Sementara itu, psikolog David Buss menyebut cemburu sebagai
respons adaptif sebagai cara melindungi pasangan. Dalam risetnya, Buss
menyimpulkan bahwa pria memiliki kecemburuan lebih besar ketika pasangannya
berada di puncak kecantikan, sedangkan perempuan lebih cemburu ketika
pasangannya makmur dan status sosialnya tinggi.
Sekarang, mari kita lihat ke diri sendiri: kecemburuan yang
ada dalam diri kita itu seperti apa. Yang jelas, yang wajib kita lakukan adalah
melindungi, memelihara dan menyelamatkan hubungan. Jika itu dapat kita lakukan
tanpa cemburu, saya kira perasaan itu tak perlu dilestarikan; kepercayaan dan
komunikasi yang baik sebaiknya lebih di kedepankan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar