Tugas parenting yang paling penting
adalah melepaskan ikatan anak dengan orang tua. Melepaskan di sini berarti
menyiapkan anak menjadi pribadi mandiri dengan kedirian yang unik, terpisah
dari kedirian orang tua. Akan tetapi, sebagian orang tua tampak tidak memahami
ini. Anak yang paling penurut dan tidak memiliki kedirian justru dipuji sebagai
anak yang berbakti. Anak yang kehendak, cara pandang, perasaan, dan
pemikirannya dikendalikan orang tua dianggap anak baik.
Pria yang tak mampu melepaskan
ikatan dengan ibunya akan menjadi lelaki yang takut dengan komitmen. Hal ini
dilakukannya supaya dia tetap dapat menjaga ikatannya dengan sang ibu. Pria
seperti ini tidak akan bisa menjadi suami yang baik. Ketidakmampuan melepaskan
ikatan dengan diri sang ibu inilah yang menjadi biang konflik menantu-mertua.
Orang banyak mendiskusikannya, tetapi tidak menyentuh akarnya. Banyak orang
takut untuk membicarakan otoritas, yang dalam hal ini adalah sosok ibu yang dianggap
sebagai manusia suci. Bagaimanapun, menjadi orang tua bukan berarti lantas
tidak lagi menjadi manusia, tempat salah dan lupa.
Seorang pria yang tak mampu
melepaskan ikatan dengan ibunya di permulaan hubungan akan menganggap wanita
seperti dewi, namun ketika hubungan sudah berjalan dan dia merasakan ternyata
perempuan ini banyak masalah seperti manusia lainnya, pandangannya akan berubah
drastis. Dia akan melihat pasangannya sebagai nenek sihir yang pantas untuk
dihakimi, diumpat dan dikutuk. Relasi pria seperti ini dengan istrinya akan
diwarnai kemarahan akibat proyeksinya tentang sosok ibu yang baik dalam
dongeng-dongeng tidak ada pada istrinya. Cara pandang pria ini seperti anak
kecil yang melihat sosok ibu sebagai wanita sempurna, akan tetapi ternyata sang
istri tidak.
Sementara itu, perempuan yang tidak
mampu melepaskan ikatan dengan sang ibu sering menjadi korban kekerasan lelaki.
Hal ini terjadi karena ikatan fisik dan emosional yang kuat tersebut membuat
sang ibu takut untuk terpisah. Karena ada penolakan dari ibu, sementara sang
anak membutuhkan keterpisahan dan perkembangan secara alamiah, anak perempuan
ini akan membawa depresi yang dalam. Sebagai respons dari depresi ini, anak
perempuan akan mengembangkan kepribadian yang lemah dan tak berdaya.
Kepribadian yang rapuh ini memantik, termasuk suami, untuk bebas melakukan
penindasan.
Bradshaw (1992) menyatakan setiap
orang perlu merayakan kelahiran psikologis atau kelahiran kedua, yaitu ketika
anak pertama kali bisa bilang “tidak” atau “milikku”, sekitar usia setahun. Hal
ini menandakan anak mulai sadar bahwa dirinya adalah pribadi yang terpisah dari
orang tuanya. Pada fase ini, keterpisahan dan individuasi harus mulai dibina
dan dihargai. Setiap orang tua harus memiliki kesadaran bahwa anak-anak mereka
adalah pribadi mandiri yang khas, yang mungkin sama sekali berbeda dari
dirinya. Ketika orang tua selalu ingin mengidentikkan anak-anak dengan diri
mereka, anak-anak ini tidak akan pernah mengalami keterpisahan dan individuasi.
Parenting memang tidak melulu soal memberikan kebutuhan sandang-pangan-papan,
tetapi membutuhkan kebijaksanaan dan keberanian untuk membiarkan anak mengambil
risiko demi pertumbuhannya dengan cara melonggarkan kendali. Tentu saja,
lagi-lagi sayangnya, kendali penuh orang tua sering dianggap sebagai cinta.
Situasi paling sulit terjadi ketika
kita memiliki orang tua yang narsisistik. Orang yang tulus mencintai akan
memahami betul bahwa anak adalah seseorang dengan identitas terpisah dari diri
mereka. Keterpisahan ini tidak hanya dihargai, tetapi mesti diajarkan dan
dijaga. Akan tetapi, orang tua yang narisisitik akan gagal memahami
keterpisahan ini sebagai salah satu jalan untuk membina hubungan yang sehat dan
penuh cinta. Dalam hal apa pun, orang tua narsistik akan melakukan sesuatu
untuk diri mereka sendiri. Misalnya, saat mengajarkan kedisiplinan ke anak,
tujuan mereka bukan untuk kepentingan anak, tetapi untuk menjaga citra atau
status mereka di masyarakat. Orang tua narsisistik akan menggunakan anak
sebagai kepanjangan dirinya. Anak akan digunakan sebagai media untuk
membanggakan sekaligus mengasihani diri.
Morgan Scott Peck (1978:163)
mengatakan ketidakmampuan memisahkan diri dengan orang lain, baik orang tua
atau pasangan, akan berakhir dengan penderitaan yang tak perlu, jika tidak
berakhir dengan sakit mental: dari depresi hingga skizofrenia (bukan berarti
ini satu-satunya penyebab skizofrenia).
Perjalanan hidup seseorang yang penuh cinta membutuhkan lingkungan yang
menghargai keunikan tiap-tiap individu, dan risikonya adalah keterpisahan atau
kehilangan. Tak banyak orang mau mengambil dua risiko ini.
Untuk melepaskan ikatan dengan
orang tua, cara paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah belajar berkata
“tidak” secara langsung. Tidak semua yang dikatakan orang tua itu baik; tidak
semua yang dikatakan orang tua itu benar-benar demi kepentingan anak; tidak
semua keinginan orang tua mesti dipenuhi. Saya tidak hendak mengajari cara
durhaka kepada orang tua, tetapi orang tua juga mesti belajar bahwa setiap
orang wajib menjalankan tugas berdasarkan perannya masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar