Senin, 05 Agustus 2019

MENGHINDARI PERANGKAP ORANG TUA ATAS NAMA CINTA



Tugas parenting yang paling penting adalah melepaskan ikatan anak dengan orang tua. Melepaskan di sini berarti menyiapkan anak menjadi pribadi mandiri dengan kedirian yang unik, terpisah dari kedirian orang tua. Akan tetapi, sebagian orang tua tampak tidak memahami ini. Anak yang paling penurut dan tidak memiliki kedirian justru dipuji sebagai anak yang berbakti. Anak yang kehendak, cara pandang, perasaan, dan pemikirannya dikendalikan orang tua dianggap anak baik.

Pria yang tak mampu melepaskan ikatan dengan ibunya akan menjadi lelaki yang takut dengan komitmen. Hal ini dilakukannya supaya dia tetap dapat menjaga ikatannya dengan sang ibu. Pria seperti ini tidak akan bisa menjadi suami yang baik. Ketidakmampuan melepaskan ikatan dengan diri sang ibu inilah yang menjadi biang konflik menantu-mertua. Orang banyak mendiskusikannya, tetapi tidak menyentuh akarnya. Banyak orang takut untuk membicarakan otoritas, yang dalam hal ini adalah sosok ibu yang dianggap sebagai manusia suci. Bagaimanapun, menjadi orang tua bukan berarti lantas tidak lagi menjadi manusia, tempat salah dan lupa.

Seorang pria yang tak mampu melepaskan ikatan dengan ibunya di permulaan hubungan akan menganggap wanita seperti dewi, namun ketika hubungan sudah berjalan dan dia merasakan ternyata perempuan ini banyak masalah seperti manusia lainnya, pandangannya akan berubah drastis. Dia akan melihat pasangannya sebagai nenek sihir yang pantas untuk dihakimi, diumpat dan dikutuk. Relasi pria seperti ini dengan istrinya akan diwarnai kemarahan akibat proyeksinya tentang sosok ibu yang baik dalam dongeng-dongeng tidak ada pada istrinya. Cara pandang pria ini seperti anak kecil yang melihat sosok ibu sebagai wanita sempurna, akan tetapi ternyata sang istri tidak.

Sementara itu, perempuan yang tidak mampu melepaskan ikatan dengan sang ibu sering menjadi korban kekerasan lelaki. Hal ini terjadi karena ikatan fisik dan emosional yang kuat tersebut membuat sang ibu takut untuk terpisah. Karena ada penolakan dari ibu, sementara sang anak membutuhkan keterpisahan dan perkembangan secara alamiah, anak perempuan ini akan membawa depresi yang dalam. Sebagai respons dari depresi ini, anak perempuan akan mengembangkan kepribadian yang lemah dan tak berdaya. Kepribadian yang rapuh ini memantik, termasuk suami, untuk bebas melakukan penindasan.

Bradshaw (1992) menyatakan setiap orang perlu merayakan kelahiran psikologis atau kelahiran kedua, yaitu ketika anak pertama kali bisa bilang “tidak” atau “milikku”, sekitar usia setahun. Hal ini menandakan anak mulai sadar bahwa dirinya adalah pribadi yang terpisah dari orang tuanya. Pada fase ini, keterpisahan dan individuasi harus mulai dibina dan dihargai. Setiap orang tua harus memiliki kesadaran bahwa anak-anak mereka adalah pribadi mandiri yang khas, yang mungkin sama sekali berbeda dari dirinya. Ketika orang tua selalu ingin mengidentikkan anak-anak dengan diri mereka, anak-anak ini tidak akan pernah mengalami keterpisahan dan individuasi. Parenting memang tidak melulu soal memberikan kebutuhan sandang-pangan-papan, tetapi membutuhkan kebijaksanaan dan keberanian untuk membiarkan anak mengambil risiko demi pertumbuhannya dengan cara melonggarkan kendali. Tentu saja, lagi-lagi sayangnya, kendali penuh orang tua sering dianggap sebagai cinta.

Situasi paling sulit terjadi ketika kita memiliki orang tua yang narsisistik. Orang yang tulus mencintai akan memahami betul bahwa anak adalah seseorang dengan identitas terpisah dari diri mereka. Keterpisahan ini tidak hanya dihargai, tetapi mesti diajarkan dan dijaga. Akan tetapi, orang tua yang narisisitik akan gagal memahami keterpisahan ini sebagai salah satu jalan untuk membina hubungan yang sehat dan penuh cinta. Dalam hal apa pun, orang tua narsistik akan melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Misalnya, saat mengajarkan kedisiplinan ke anak, tujuan mereka bukan untuk kepentingan anak, tetapi untuk menjaga citra atau status mereka di masyarakat. Orang tua narsisistik akan menggunakan anak sebagai kepanjangan dirinya. Anak akan digunakan sebagai media untuk membanggakan sekaligus mengasihani diri. 

Morgan Scott Peck (1978:163) mengatakan ketidakmampuan memisahkan diri dengan orang lain, baik orang tua atau pasangan, akan berakhir dengan penderitaan yang tak perlu, jika tidak berakhir dengan sakit mental: dari depresi hingga skizofrenia (bukan berarti ini satu-satunya penyebab skizofrenia).  Perjalanan hidup seseorang yang penuh cinta membutuhkan lingkungan yang menghargai keunikan tiap-tiap individu, dan risikonya adalah keterpisahan atau kehilangan. Tak banyak orang mau mengambil dua risiko ini.

Untuk melepaskan ikatan dengan orang tua, cara paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah belajar berkata “tidak” secara langsung. Tidak semua yang dikatakan orang tua itu baik; tidak semua yang dikatakan orang tua itu benar-benar demi kepentingan anak; tidak semua keinginan orang tua mesti dipenuhi. Saya tidak hendak mengajari cara durhaka kepada orang tua, tetapi orang tua juga mesti belajar bahwa setiap orang wajib menjalankan tugas berdasarkan perannya masing-masing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar