
Di antara isu yang muncul dalam sebuah pernikahan adalah
seputar uang dan seks. Pasangan selama bertahun-tahun tak henti-henti
meributkan bagaimana seharusnya lalu lintas keuangan dikelola. Dalam beberapa
kondisi, “konflik finansial” ini dijadikan alasan bagi pasangan untuk
merobohkan bangunan pernikahan mereka.
Sementara itu, tak kalah menarik, seks juga kerap dijadikan
ajang untuk berkonflik dengan pasangan. Konflik yang dipicu oleh seks terjadi
pada beberapa situasi: menolak berhubungan seksual, menyakiti pasangan saat
berhubungan seks, mengajak berhubungan seks tanpa kenal waktu dan kondisi, atau
melakukan hubungan seks dengan orang lain.
Dalam pernikahan, uang adalah gizi, sedangkan seks adalah
energi. Tanpa kecukupan finansial, sendi-sendi pernikahan akan lemas; tanpa
seks, pernikahan akan suram. Karena urgensi keduanya, orang yang memiliki
masalah tersebut sedang menunjukkan kerawanan hubungan.
Ada pasangan yang memang akar konfliknya adalah uang,
seperti suami sakit menahun sehingga tak mampu bekerja. Sementara itu, masalah
seks dipicu oleh disfungsi alat vital atau preferensi seksual, seperti seorang
lesbian yang menikah dengan pria karena merasa terpaksa harus menikah padahal
kecenderungannya tidak pernah berubah, atau seorang gay yang merasa terpaksa
menikah dengan perempuan.
Akan tetapi, John dan Linda Friel (1988; 119) menyatakan
konflik yang dipicu oleh uang dan seks sering hanya sekadar luapan dari isu
mental (covert issues) yang tengah dihadapi pasangan. Pasangan yang di
permukaan berdebat sengit tentang uang yang dialokasikan untuk keluarga lama,
misalnya, sebenarnya dilatari oleh kebutuhan emosial yang tidak dicukupi oleh
pasangan. Akan tetapi, dia terlalu takut untuk mengutarakannya secara langsung:
dia takut bakal ditinggalkan jika mengungkapkannya, atau dia akan dianggap
terlalu naif, manja dan kekanak-kanakan oleh pasangan. Dia lalu mencari objek
konflik yang lebih jelas.
Istri merasa tidak aman dengan keberlangsungan
pernikahannya, lalu dia menyimpan uang dan aset secara rahasia, sebagai
antisipasi jika apa yang dikuatirkannya benar-benar terjadi. Ketika suami
mengetahui aksi diam-diam tersebut, perceraian lalu benar-benar terjadi. Dalam
kasus lain, suami-istri ribut terkait nama siapa yang harus dicantumkan dalam
akte properti; masing-masing ngotot karena tidak aman dengan status
pernikahannya. Suami tak memiliki waktu untuk memperhatikan istri, dia kemudian
mencari kompensasi dengan membiayai gaya hidup istri yang boros. Suami tertutup
terkait keuangan, karena sebetulnya dia memiliki simpanan istri ke sekian di
sebuah apartemen.
Hal demikian terjadi juga pada isu seputar seks. Istri
sedang marah, lalu dia menolak untuk dicolek. Suami sebetulnya tengah memendam
amarah tetapi dia tidak dapat mengungkapkannya karena takut. Akhirnya, dia
ekspresikan kontrol dan kuasanya lewat seks. Istri sangat bergantung dan
bimbang dengan jati dirinya, dia kemudian meminta seks tiap malam hingga suami
merasa kewalahan; jika tidak dituruti, dia merasa tidak dicintai.
Dalam pernikahan (juga di keluarga) apa yang tampak di luar
(overt) adalah hasil dari apa yang ada di “dapur”. Di luar, pasangan tampak
bahagia dan sumringah. Di balik itu, mereka merasa kosong, marah, cemas, galau,
malu, kecanduan dan penuh dengan konflik batin.
Marina (30) kerap mengeluhkan suaminya yang dianggap kurang
produktif dalam mencari uang, akan tetapi sering berkirim uang untuk keluarga
lamanya.
“Sudah tahu buat anak-istrinya aja ngepas banget, tapi
sering sok-sokan punya uang kalau di hadapan keluarganya,” keluhnya.
Jika ditelisik, sebetulnya penghasilan suami Marina di atas
rata-rata; posisinya di tempat kerja juga cukup prestisius. Bahkan, sang suami
menyerahkan semua penghasilan kepadanya, kemudian Marina bertindak sebagai
bendahara, termasuk “menggaji” suaminya untuk keperluan sehari-hari.
Kalau dibandingkan dengan mayoritas koleganya di tempat
kerja, seharusnya Marina lebih dapat bersyukur. Jadi, masalah utama Marina dan
suaminya pasti bukan uang yang dikatakan minim tersebut.
Sebetulnya, akar masalah Marina adalah kemarahan pada sikap
suami yang cuek dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak semata wayang mereka.
Setiap bangun pagi, Marina harus sibuk dengan kegiatan masak, bersih-bersih dan
(setelah lahir anak) memandikan dan menyuapi. Setelah semua beres, mereka baru
sarapan bersama dan berangkat kerja, sedangkan anak dititipkan.
Ketidakmampuan Marina mengungkapkan kelelahan yang dia alami
membuat dia mencari “objek” yang lebih jelas untuk disasar, sebagai pengganti
mendiskusikan masalah yang sesungguhnya. Di pihak lain, merespons sikap Marina,
sang suami kemudian mencari pengalihan kepada smartphone dan TV. Sang suami
seolah mengatakan, “Daripada mendengar keluhanmu yang berulang-ulang, mending
aku main hape atau nonton TV, lebih bikin hepi.” Akhirnya, objek konflik
semakin bertambah.
Di tempat lain, seorang suami, sebut saja Marno (43), adalah
seorang maniak seks. Dalam sehari, dia bisa minta sampai tiga kali. Sang istri
terkadang sudah dandan dan berpakaian rapi siap berangkat bekerja, tapi Marno
masih sempat-sempatnya menyeret ke kamar. Marno berhubungan seks bukan karena
sedang “butuh”, tetapi karena dia “ingin”.
Marno adalah tipe suami yang kurang mampu mencukupi
kebutuhan ekonomi keluarga. Profesinya sebagai editor lepas dan penulis (yang
bukunya dapat dikatakan “tak laku-laku”) membuat penghasilannya tak pernah
pasti. Kebutuhan sehari-hari lebih banyak dipenuhi oleh sang istri.
Demi menegaskan keberadaannya sebagai laki-laki sejati pemimpin
di keluarga, luapan Marno adalah kendali atas seks. Marno seolah hendak
menegaskan,”Saya memang tak pandai cari uang, tapi di ranjang saya adalah
juaranya!”
Kata orang, di keluarga itu ada saja masalahnya. Pernyataan
ini tentu memiliki kebenaran, akan tetapi akarnya biasanya tidak banyak.
Masalah yang ada di permukaan (yang orang lihat) biasanya hanya daun pada
sebuah pohon. Jika Anda pangkas daun yang dianggap mengganggu, kemungkinan akan
tumbuh lagi di sebelahnya (masalah yang lain), sampai Anda temukan akarnya
untuk benar-benar dapat ditumpas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar