Madu yang dihasilkan lebah tentu
manis dan menyehatkan, tapi tidak dengan “madu” dalam arti ‘daun benalu’. Madu
dalam makna kedua inilah yang dipakai sebagai metafora untuk pesaing istri
pertama dalam mengerogoti cinta suami.
Tak tanggung-tanggung, Mira (37)
harus berhadapan dengan dua madu yang mengerosi perasaan tanpa dikehendaki.
Menikah di usia muda, Mira harus menahan sendu karena suaminya melupakan janji
untuk saling setia.
“Awalnya dia izin. Aku kasih
masukan, tapi dia tak mau. Katanya dia sudah telanjur cinta, jadi aku terpaksa
memberinya izin,” kata Mira.
Padahal, saat itu perkawinan Mira
dan Santoso sudah menghasilkan dua anak. Mereka menikah pada 1999, saat usia
Mira baru 17 tahun.
Peristiwa pahit itu dialami Mira
pada 2012, saat anak pertamanya sudah berusia 12 tahun. Sang suami mengenal
madu tersebut di Malaysia, tempat dia bekerja. Keduanya sama-sama mengadu nasib
sebagai TKI di negeri jiran. Kita sebut saja sang madu ini dengan Mona.
Yang lebih menyakitkan dari kabar
pernikahan siri sang suami adalah saat Santoso pulang ke tanah Jawa membawa
sang madu dalam keadaan hamil 8 bulan. Tinggal beberapa saat di kampung halaman
Mira, Santoso kemudian kembali lagi ke Malaysia dengan menitipkan Mona supaya
dipergauli dengan cara saksama.
“Istri nomor duanya itu aku rawat
sampai melahirkan. Selama 7 bulan aku merawatnya,” kenang Mira.
Mira mencoba untuk mengendalikan
perasaannya. “Aku sayang sama dia; aku anggap dia saudaraku sendiri. Mula-mula
dia juga baik sama aku,” imbuhnya.
Akan tetapi, dua tahun kemudian
Mira merasa ada yang berubah dari Mona. “Dia jahat sama aku; dia iri sama aku,”
ujar Mira.
Mira pun melanjutkan kisahnya
dengan menceritakan kepulangan suaminya yang kedua dari Malaysia setelah
membawa oleh-oleh madu tersebut, tepatnya pada 2014. Mona mengamuk karena
Santoso pulang ke rumah Mira terlebih dulu.
Sebagai informasi, Mira dan Mona
tinggal di dua kota berbeda di Jawa Timur. Santoso sendiri pulang ke rumah Mira
mungkin karena lebih dekat dari kampung halamannya. Santoso dan Mira tinggal di
sebuah desa yang bersebelahan.
Ketika mengetahui Santoso pulang,
Mona segera menyusul ke rumah Mira dengan membawa bayinya yang baru 2 tahun.
Mereka tinggal bertiga di rumah Mira selama kurang lebih empat bulan. Selama
itu pula, Mira merasa diperlakukan bak pembantu oleh madu dan suaminya.
“Habis shalat shubuh aku sudah
nyiapin buat sarapan. Semua pekerjaan rumah tangga aku yang ngerjain tanpa
dibantu sama dia. Seluruh pakaian istri barunya itu, termasuk pakaian anaknya,
aku yang nyuci. Aku juga yang mandiin anaknya,” ungkap Mira.
Ditanya tentang pembagian jatah
tidur, Mira mengatakan bahwa selama empat bulan tersebut suaminya menemani sang
madu semalam dan dirinya semalam.
“Akan tetapi, pas jatahku, suami
lebih banyak tidur di ruang tamu, di depan TV,” bebernya.
Mira merasa disapih oleh
suaminya. Akan tetapi, dia mengaku tetap bertahan demi melaksanakan
kewajibannya sebagai istri.
“Aku menjalankan kewajibanku
sebagai seorang istri yg baik. Walau mereka dah jahat sama aku, aku tetap
berlaku baik padanya. Aku sampai gak habis pikir, aku dah baik sama dia, tapi
kok dia tega misahin aku dengan suamiku,” katanya sambil menambahkan bahwa
kemungkinan madunya itu menggunakan guna-guna.
Kawin Tiga
Mira hanya bisa menyimpan rasa
sakit yang dia alami. Mira mengadu kepada Tuhan supaya Mona merasakan sakitnya dikhianati
oleh orang yang dicintai.
“Saking jengkelnya, aku pernah
mengucap kata, ‘Suatu saat kamu pasti merasakan seperti yang kurasakan’,” Mira
membatin.
Pola hubungan segitiga yang tak
harmonis itu membuat Santoso kurang betah di rumah. Dia pun memutuskan balik ke
Malaysia.
Hanya enam bulan setelah
kepergian Santoso ke Malaysia pada 2014, Mira mendapatkan kabar bahwa suaminya
sedang menghimpun istri yang ketiga.
“Mungkin itu doaku yang terkabul.
Aku hanya bisa sabar, menerima, ikhlas. Semua kuserahkan sama Allah,” katanya.
Mira belum pernah jumpa dengan
istri ketiga suaminya tersebut, kecuali lewat telepon seluler. Dari istrinya
yang ketiga ini, Santoso juga memiliki satu anak laki-laki.
Ditanya tentang pembagian nafkah,
Mira menunjukkan muka sedih sambil mengatakan bahwa sudah dua setengah tahun
ini, dia tidak mendapatkan kabar apa pun dari suaminya, apalagi nafkah. Dia
mengaku nomor telponnya diblokir.
“Yang kedua itu sudah benar-benar
berhasil membuat suami melupakan kami,” katanya.
Sementara itu, dengan madu
keduanya, Mira terkadang masih bertanya kabar lewat aplikasi WhatsApp. Kepada
suaminya, Mira mengatakan kalau sudah tidak sudi lagi mengakuinya sebagai istri
tidak mengapa asalkan kedua anaknya dicukupi kebutuhannya.
“Sampai kapan pun kedua anakku
adalah tanggung jawabnya. Mereka butuh makan, butuh sekolah. Dia dah nyakitin
aku lahir-batin, dah nyia-nyiakan aku itu sudah dosa besar. Apa mau nambah dosa
lagi dengan menelantarkan anak,” kata Mona untuk suaminya.
Untuk mencukupi kebutuhan
sehari-hari, Mira saat ini berjualan es tebu dan menerima jahitan di rumahnya.
Dia belum berpikir untuk menggugat cerai meskipun tak pernah mendapatkan
sentuhan fisik sama sekali dari suaminya selama lebih dari 3 tahun terakhir.
Mira mengaku saat ini lebih sibuk untuk memikirkan masa depan kedua anak
kandungnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar